KOTA BIMA BISA: “Dari Slogan Menjadi Peradaban”
KOTA BIMA BISA: “Dari Slogan Menjadi Peradaban”
Ditulis Oleh : Oma Irama, S.Pd.I
Di tengah derasnya perubahan zaman, sebuah daerah tidak cukup hanya dikenal melalui pembangunan fisik semata. Kota yang kuat adalah kota yang memiliki identitas, semangat kolektif, dan cita-cita bersama. Dalam konteks itulah, slogan “KOTA BIMA BISA” memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar rangkaian kata motivasi. Ia adalah energi sosial, keyakinan bersama, dan arah peradaban.
“BISA” bukan hanya tentang kemampuan, tetapi tentang keberanian untuk berubah, tumbuh, dan membuktikan bahwa Kota Bima mampu berdiri sejajar dengan daerah lain yang lebih maju. Ketika slogan ini hanya berhenti di baliho, pidato, atau media sosial, maka ia hanya menjadi hiasan. Namun ketika semangat itu hidup dalam perilaku masyarakat, budaya kerja pemerintah, pendidikan, ekonomi, dan karakter generasi mudanya, maka “KOTA BIMA BISA” akan berubah menjadi sebuah peradaban.
Momentum Hari Ulang Tahun Kota Bima ke-24 menjadi saat yang tepat untuk memperbarui semangat dan harapan kita bersama. Perayaan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan pengingat bahwa kemajuan sebuah kota lahir dari persatuan, kerja keras, dan visi yang sama untuk masa depan yang lebih baik.
“KOTA BIMA BISA” harus menjadi gerakan bersama, bukan sekadar slogan. Sebuah gerakan yang hidup dalam tindakan nyata seluruh elemen masyarakat — dari pemerintah, tenaga pendidik, tokoh masyarakat, pemuda, hingga seluruh warga Kota Bima. Semangat “bisa” harus hadir di sekolah, kantor pelayanan publik, ruang usaha, lingkungan sosial, bahkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Melalui pendidikan, kita menanamkan karakter, ilmu pengetahuan, dan semangat kemajuan sebagai fondasi utama membangun masa depan. Generasi muda Kota Bima harus dipersiapkan menjadi generasi yang cerdas, berintegritas, kreatif, dan memiliki kepedulian terhadap daerahnya. Sebab dari ruang-ruang pendidikanlah lahir pemimpin, inovator, dan penggerak peradaban.
Peradaban selalu lahir dari mimpi besar yang diperjuangkan bersama. Kota Bima memiliki modal sejarah, budaya, religiusitas, dan semangat masyarakat yang kuat. Nilai kekeluargaan dan gotong royong yang hidup di tengah masyarakat merupakan kekayaan sosial yang menjadi fondasi penting dalam membangun kota yang tidak hanya maju secara fisik, tetapi juga matang secara sosial dan intelektual.
Transformasi slogan menjadi peradaban membutuhkan konsistensi dan keteladanan. Pemerintah harus menghadirkan pelayanan yang jujur, cepat, dan berpihak kepada rakyat. Dunia pendidikan harus terus melahirkan sumber daya manusia yang unggul. Anak muda perlu diberikan ruang untuk berkarya dan berinovasi. Dunia usaha harus tumbuh melalui semangat kolaborasi dan pemberdayaan masyarakat.
Peradaban juga ditentukan oleh cara sebuah kota menjaga nilai-nilai kemanusiaan. Kota yang maju bukan hanya yang memiliki gedung tinggi dan jalan yang luas, tetapi juga yang menghadirkan rasa aman, nyaman, bersih, dan penuh harapan bagi warganya. Ketika masyarakat saling menghargai, menjaga lingkungan, menghormati perbedaan, dan aktif membangun daerahnya, maka sesungguhnya peradaban sedang tumbuh.
Sejarah membuktikan bahwa kota-kota besar lahir dari keyakinan kolektif masyarakatnya. Tidak ada kemajuan tanpa mimpi besar, dan tidak ada peradaban tanpa kerja bersama. Karena itu, “KOTA BIMA BISA” harus dipahami sebagai arah perjalanan bersama menuju masa depan yang lebih bermartabat.
Dengan semangat kebersamaan, kerja keras, dan optimisme, Kota Bima memiliki peluang besar untuk tumbuh menjadi kota yang maju, berdaya saing, dan membanggakan. Pada akhirnya, peradaban bukan hanya tentang seberapa megah sebuah kota terlihat, tetapi tentang seberapa besar nilai, karakter, dan harapan yang hidup di dalamnya.
Dan Kota Bima memiliki semua alasan untuk percaya:
KOTA BIMA BISA — dari slogan menjadi peradaban.