Pendidikan Kita Mencerahkan, Tapi Belum Merata Ditulis oleh: Oma Irama, S.Pd.I
Pendidikan Kita Mencerahkan, Tapi Belum Merata oleh: Oma Irama, S.Pd.I
Pendidikan seharusnya menjadi cahaya yang menerangi setiap anak bangsa tanpa membedakan kota maupun pelosok. Namun realitas hari ini menunjukkan bahwa cahaya itu belum menyinari semua ruang secara adil. Ada anak-anak yang belajar dengan teknologi canggih di ruang kelas modern, sementara di sudut negeri lain masih ada siswa yang belajar dalam keterbatasan—tanpa internet, tanpa buku memadai, bahkan tanpa guru yang hadir secara utuh.
Lalu salah siapa?
Kesalahan itu bukan milik anak-anak yang lahir di desa tanpa sinyal. Bukan pula milik guru yang tetap berdiri di depan kelas meski honor mereka kadang lebih kecil daripada harga janji-janji pembangunan. Bukan juga kesalahan orang tua yang rela menjual hasil kebun demi membeli seragam, buku, atau kuota internet untuk anak-anak mereka.
Barangkali ruang kesalahan terbesar ada pada cara kita memandang pendidikan itu sendiri. Pendidikan terlalu sering dijadikan slogan saat kampanye, namun perlahan dilupakan ketika anggaran mulai dibagi. Kita lebih sibuk membangun gedung yang indah untuk dipotret, tetapi kurang serius membangun kualitas manusia yang akan mengisi masa depan bangsa.
Hari ini ketimpangan pendidikan masih nyata. Di kota, sebagian anak belajar dengan layar pintar dan akses informasi tanpa batas. Sementara di pelosok, masih ada siswa yang belajar mengeja sambil menunggu guru datang menembus jalan rusak dan keterbatasan fasilitas.
Kita bangga berbicara tentang “Merdeka Belajar”, tetapi banyak sekolah belum merdeka dari kekurangan guru, internet, perpustakaan, bahkan toilet yang layak. Kita memperkenalkan berbagai gagasan pendidikan berbasis cinta dan kemerdekaan berpikir, namun implementasinya masih tertahan pada tumpukan administrasi dan formalitas.
Ironisnya, setiap tahun nilai siswa terus dievaluasi, tetapi ketimpangan pendidikan jarang benar-benar diperbaiki.
Anak-anak dipaksa bersaing dalam lintasan yang berbeda. Ada yang berlari di jalan beraspal mulus, sementara yang lain masih berjalan di lumpur keterbatasan. Ketika hasil akhirnya timpang, kita justru bertanya mengapa kualitas pendidikan menurun.
Padahal pendidikan hari ini kadang lebih sibuk mengejar laporan daripada menyelamatkan generasi. Guru dibebani administrasi tanpa akhir. Siswa dibebani target akademik. Namun negara sering lupa membebani dirinya sendiri dengan tanggung jawab moral untuk memastikan keadilan pendidikan benar-benar hadir.
Karena itu, solusi pendidikan tidak cukup hanya mengganti kurikulum atau mengubah nama program setiap pergantian kebijakan. Ketidakmerataan pendidikan membutuhkan keberanian untuk menyentuh akar persoalan.
Ada beberapa langkah mendasar yang perlu diwujudkan:
- Pemerataan guru berkualitas hingga ke pelosok, bukan hanya terkonsentrasi di kota dan sekolah tertentu.
- Penyediaan infrastruktur dasar yang layak seperti listrik, internet, perpustakaan, dan ruang belajar yang manusiawi.
- Kepastian kesejahteraan dan pengangkatan guru agar pendidikan tidak dibangun di atas kecemasan tenaga pendidiknya.
- Pengelolaan anggaran pendidikan yang benar-benar menyentuh kebutuhan sekolah, bukan habis di meja birokrasi.
- Kebijakan pendidikan yang mendengar suara guru, murid, dan masyarakat, bukan sekadar suara rapat dan pencitraan.
Sebab hakikat pendidikan bukan sekadar tentang siapa yang paling pintar menghafal atau paling tinggi nilainya. Pendidikan adalah tentang memastikan setiap anak—baik yang tinggal di pusat kota maupun di ujung negeri—memiliki kesempatan yang sama untuk bermimpi dan mengubah hidupnya.
Jika pendidikan hanya terang di pusat kota sementara pinggiran tetap gelap, maka yang kita bangun bukanlah kemajuan. Kita hanya sedang memperlebar jarak antara mereka yang didengar dan mereka yang dilupakan.