DINAMIKA KEBOSANAN DAN KEBANGKITAN FOKUS SISWA DALAM KEGIATAN IMTAQ: Perspektif Teologis, Psikologis, Pedagogis, dan Filosofi Kearifan Lokal Dou Mbojo "Tambulate" Oleh: Suhardin, S.Pd., M.M.

Kegiatan Imtaq (Iman dan Taqwa) rutin di sekolah sering kali dihadapkan pada realitas psikologis yang paradoksal: di satu sisi, kegiatan ini bertujuan mulia menanamkan nilai-nilai spiritual; di sisi lain, tidak jarang siswa terlihat jenuh, mengantuk, pasif, bahkan "sarusa", istilah lokal yang menggambarkan kondisi gelisah, tidak bisa duduk tenang, dan kehilangan fokus total.

Fenomena ini tidak boleh disikapi dengan vonis bahwa siswa "kurang shalih" atau "malas beribadah." Lebih dari itu, kejenuhan ini adalah alarm metodologis dan psikologis yang menuntut evaluasi menyeluruh.

Berikut adalah bedah komprehensif mengenai akar masalah kejenuhan siswa saat kegiatan Imtaq serta trik mengaktifkannya melalui empat sudut pandang: "Teologis, Psikologis, Pedagogis, dan Filosofi Kearifan Lokal Bima (Tambulate)".

I. Analisis Akar Masalah: Mengapa Siswa Jenuh dan "Sarusa"?

Sebelum merumuskan solusi, penting untuk memahami mengapa siswa kehilangan fokus dalam kegiatan keagamaan:

1. Monotonitas Metode (Teologis-Pedagogis): Kegiatan Imtaq sering kali direduksi menjadi ceramah satu arah (teacher-centered) yang panjang, kering dari dialog interaktif, dan mengabaikan karakteristik generasi digital.

2. Kelelahan Kognitif (Psikologis): Kapasitas atensi (attention span) remaja terbatas. Memaksa mereka duduk diam mendengarkan materi abstrak dalam durasi lama tanpa jeda gerak memicu kejenuhan otak.

3. Keterasingan Ruang (Sosiologis-Kultural): Materi sering disampaikan dengan bahasa normatif-teoretis yang gagal menyentuh realitas keseharian dan identitas budaya lokal mereka (Dou Mbojo).

II. Bedah Perspektif: Mengapa Siswa Harus Dihidupkan Kembali?

1. Perspektif Teologis: Menghidupkan Ruh Beragama yang Menggembirakan

Secara teologis, Islam adalah agama yang menjunjung tinggi keindahan dan kegembiraan spiritual (Inna ad-diina yusru). Nabi Muhammad SAW bahkan sering mengingatkan para sahabat agar tidak membuat umat bosan dalam beribadah.

Implikasinya, Imtaq bukan sekadar menggugurkan kewajiban seremonial keagamaan, melainkan proses "tazkiyatun nafs" (penyucian jiwa). Jika disampaikan dengan cara yang menekan dan membosankan, nilai sakral agama justru berubah menjadi beban psikologis bagi anak didik.

2. Perspektif Psikologis: Memahami Kebutuhan Jiwa Remaja

Dari sudut pandang psikologi perkembangan, fase remaja adalah masa pencarian identitas yang membutuhkan stimulasi dinamis, ekspresi diri, dan penghargaan atas eksistensi mereka. Kondisi "sarusa" (tidak bisa fokus) adalah manifestasi energi motorik yang terpendam.

Implikasinya, Otak remaja membutuhkan "engagement" (keterlibatan aktif). Pembelajaran spiritual harus melibatkan panca indra, gerak, emosi positif, dan ruang untuk mengekspresikan diri agar hormon dopamin (zat kebahagiaan dan motivasi) di otak mereka terstimulasi.

3. Perspektif Pedagogis: Implikasi Kegiatan yang Menyenangkan (Joyful Learning)

Dalam ilmu pedagogi modern (seperti pendekatan "Deep Learning" dan 'Differentiated Instruction'), belajar harus bermakna dan menyenangkan.

Implikasinya dalam kegiatan Imtaq perlu ditransformasikan dari "auditory passive listening" menjadi "experiential learning". Melalui permainan peran (role-play), refleksi terbimbing, diskusi kelompok kecil, kuis interaktif bernuansa gamifikasi, hingga seni pertunjukan Islami, siswa disentuh melalui berbagai gaya belajar (visual, auditori, dan kinestetik).

4. Perspektif Kearifan Lokal Filosofi Bima: Menemukan Ketangguhan dalam "Tambulate"

Masyarakat Bima ("Dou Mbojo") memiliki warisan filosofi yang sangat dalam mengenai karakter manusia seutuhnya, salah satunya disimbolkan melalui 'Bunga Tambulate' (Bunga Satako / Samo'bo).

Menilik filosofi "Tambulate" dalam konteks pembentukan karakter siswa saat Imtaq memberikan makna filosofis yang luar biasa:

a. Pohon dan Tangkai Tunggal (Tauhid): Hidup di sela-sela batu cadas yang tandus, bunga ini tetap berdiri tegak karena akarnya menancap kuat pada satu titik sumber kehidupan. Ini mengajarkan bahwa fokus siswa dalam beragama harus berakar pada tauhid yang kokoh, tidak mudah goyah oleh distraksi zaman modern.

b. "5 Kelopak Berwarna Merah Darah" (Rukun Islam): Melambangkan keberanian, pengorbanan, dan prinsip hidup yang menyala-nyala. Imtaq harus mampu membakar semangat juang siswa, bukan membuat mereka terkantuk-kantuk.

c. "3 Benang Sari Kuning yang Tegak" (Islam, Iman, dan Ihsan): Melambangkan integritas spiritual yang utuh (ketundukan syariat, kedalaman keyakinan, dan keindahan akhlak).

d. Ketangguhan di Tengah Badai: "Tambulate" hidup di sela batu cadas, tahan terhadap panas terik, badai, hujan deras, hingga derasnya aliran air. Metafora ini menggambarkan bahwa siswa "Dou Mbojo" adalah generasi tangguh. Jika mereka "sarusa" atau jenuh, itu karena metode pembelajarannya yang "terlalu rapuh", bukan karena karakter dasarnya yang lemah. Imtaq harus menjadi medium penempaan ketangguhan mental layaknya "Tambulate" yang kokoh di atas batu karang.

III. Trik Praktis Mengaktifkan Siswa saat Imtaq (Berbasis Filosofi & Pedagogi)

Berdasarkan sintesis teologis, psikologis, pedagogis, dan kearifan lokal "Tambulate", berikut adalah trik aplikatif yang dapat diterapkan oleh guru/pembina di sekolah:

1. "Ice Breaking" dan "Mindfulness" Berbasis Metafora "Tambulate"

a. Teknik: Sebelum inti kegiatan dimulai, lakukan "centering" atau pemusatan pikiran selama 2 menit. Ajak siswa menarik napas dalam-dalam sambil meresapi filosofi "Tambulate": "Duduklah tegak seperti batang Tambulate di sela batu cadas; kokoh, tidak mudah goyah oleh angin, siap menyerap energi positif."

b. Tujuan: Menurunkan tingkat kegelisahan (sarusa) dan memfokuskan kembali gelombang otak siswa ke tingkat kesiapan belajar yang tenang namun berenergi.

2. Transformasi Ceramah Menjadi "Storytelling" Interaktif (Pendidikan Bercerita)

a. Teknik: Alih-alih menyampaikan materi secara doktriner, gunakan kisah-kisah inspiratif kepahlawanan lokal Bima yang diintegrasikan dengan nilai akhlakul karimah. Hubungkan keteguhan pejuang Bima atau ketahanan hidup bunga "Tambulate" dengan keteguhan iman menghadapi godaan zaman now (seperti kecanduan "gadget", kenakalan remaja, dan kemalasan).

b. Tujuan: Memantik imajinasi dan keterikatan emosional siswa (emotional engagement).

3. Metode "Thematic Group Discussion" & Refleksi Tematik (Diferensiasi Pembelajaran)

a. Teknik: Bagi siswa dalam kelompok-kelompok kecil (merefleksikan kesatuan 5 kelopak Islam). Berikan mereka kasus nyata yang relevan dengan kehidupan remaja masa kini, lalu minta mereka mendiskusikan solusinya dari sudut pandang agama dan kearifan lokal ("Maja Labo Dahu"). Perwakilan kelompok kemudian mempresentasikan hasilnya secara kreatif (bisa berupa yel-yel, puisi, atau drama singkat).

b. Tujuan: Mengakomodasi kebutuhan psikologis remaja untuk bergerak, berbicara, dan dihargai pendapatnya, sekaligus menghilangkan kebosanan duduk pasif.

4. Apresiasi dan "Jeda Energi" (Energy Booster)

a. Teknik: Jika durasi Imtaq cukup panjang (misalnya 45–60 menit), wajibkan adanya jeda di tengah kegiatan ("stretching" ringan, tepuk tangan berirama, atau kuis berhadiah ringan seputar kearifan lokal dan keislaman).

b. Tujuan: Mengembalikan suplai oksigen ke otak, membuang kejenuhan fisik, dan mengubah suasana hati menjadi ceria (joyful) kembali.

PENUTUP 

Kejenuhan dan perilaku "sarusa" siswa dalam kegiatan Imtaq adalah sebuah sinyal bahwa metode penyampaian kita perlu beradaptasi. Dengan memadukan pencerahan 'teologis', pendekatan 'psikologis-pedagogis' yang menyenangkan, serta penguatan akar budaya lokal melalui filosofi 'Tambulate', di mana siswa ditempa menjadi pribadi yang tangguh, berakar kuat pada tauhid, dan tahan terhadap "badai" zaman, di mana kegiatan Imtaq tidak lagi menjadi rutinitas yang membosankan, melainkan sebuah ruang transformasi jiwa yang dirindukan dan dinantikan oleh setiap peserta didik.[DeoLariti]